BRMP Sulawesi Barat Kawal Penanaman Perdana PM-AAS di Kabupaten Mamuju
MAMUJU- Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Barat melaksanakan pengawalan Luas Tambah Tanam (LTT) melalui Program Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Desa Beru-Beru, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju.
Kegiatan ini merupakan penanaman perdana Program PM-AAS di Kabupaten Mamuju sebagai bagian dari percepatan target nasional pengembangan 1 juta hektare pertanian modern di Indonesia. Kabupaten Mamuju sendiri memperoleh target pengembangan PM-AAS seluas 1.415 hektare, sehingga pelaksanaan penanaman perdana ini menjadi langkah awal yang strategis dalam mendukung peningkatan produksi padi dan percepatan swasembada pangan nasional.
Pelaksanaan kegiatan diinisiasi oleh Penyuluh Pertanian Kabupaten Mamuju bersama kelompok tani dengan pendampingan BRMP Sulawesi Barat. Penanaman dilakukan dengan menerapkan teknologi PM-AAS yang mengedepankan budidaya padi secara modern, efisien, serta penggunaan alat dan mesin pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani. Pada tahap awal, kegiatan penanaman dilaksanakan pada areal seluas 10 hektare dan akan dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu tiga hari sebagai langkah awal implementasi Program PM-AAS di Kabupaten Mamuju.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Direktur Wilayah BRMP Sulawesi Barat, Dr. Sumarni, Penanggung Jawab Swasembada Pangan Kabupaten Mamuju, Ketua Tim Kerja Kabupaten Mamuju, para penyuluh pertanian, pemerintah desa, serta para petani di Desa Beru-Beru yang menjadi lokasi awal pelaksanaan program.
Usai kegiatan penanaman, dilaksanakan dialog interaktif antara Direktur Wilayah BRMP Sulawesi Barat, Dr. Sumarni, bersama para petani dan penyuluh pertanian. Suasana dialog berlangsung hangat dan penuh antusias. Para petani menyambut baik kehadiran Program PM-AAS yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan mendorong modernisasi pertanian di Kabupaten Mamuju.
Dalam dialog tersebut, para petani menyampaikan sejumlah kendala yang masih dihadapi di lapangan. Salah satu persoalan utama adalah belum adanya jadwal pembukaan pintu air yang teratur sehingga distribusi air irigasi belum dapat mendukung kebutuhan tanam secara optimal. Selain itu, penerapan tanam serentak juga belum berjalan maksimal karena sebagian besar kelompok tani belum terbentuk berdasarkan kesatuan hamparan. Kondisi tersebut menyebabkan pola tanam masih dilakukan secara bertahap sehingga menyulitkan pengaturan jadwal tanam dan pengelolaan air irigasi.
Permasalahan lain yang turut menjadi perhatian adalah Bendung Kalukku, khususnya jaringan irigasi sekundernya yang hingga saat ini belum beroperasi secara optimal. Akibatnya, layanan irigasi belum mampu menjangkau seluruh wilayah layanan bendung, terutama areal persawahan di Desa Kalukku Barat dan Desa Sinyonyoi. Saat ini, pemanfaatan jaringan irigasi masih terfokus di Desa Beru-Beru dengan cakupan Luas Baku Sawah (LBS) sekitar 700 hektare. Para petani berharap jaringan irigasi sekunder Bendung Kalukku dapat segera dioptimalkan sehingga distribusi air dapat menjangkau seluruh areal persawahan yang menjadi daerah layanan. Dengan demikian, pelaksanaan tanam serentak serta implementasi Program PM-AAS di Kecamatan Kalukku dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Direktur Wilayah BRMP Sulawesi Barat, Dr. Sumarni, menegaskan bahwa seluruh masukan dari petani akan menjadi perhatian bersama dan akan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah serta instansi terkait. Menurutnya, keberhasilan Program PM-AAS tidak hanya bergantung pada penerapan teknologi modern, tetapi juga memerlukan dukungan infrastruktur irigasi, penguatan kelembagaan kelompok tani berbasis hamparan, serta sinergi yang kuat antara pemerintah, penyuluh, dan petani.
Melalui pengawalan yang dilakukan secara berkelanjutan oleh BRMP Sulawesi Barat bersama seluruh pemangku kepentingan, diharapkan target pengembangan PM-AAS seluas 1.415 hektare di Kabupaten Mamuju dapat tercapai sesuai rencana. Program ini diharapkan menjadi salah satu pengungkit modernisasi pertanian di Sulawesi Barat, meningkatkan produktivitas padi, memperkuat ketahanan pangan daerah, serta memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian swasembada pangan nasional.(MN)